Review Makna Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi

Review Makna Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi

Review Makna Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi. Lagu “Lemon” karya Kenshi Yonezu tetap menjadi salah satu karya paling menyentuh dalam musik Jepang modern, bahkan setelah hampir delapan tahun sejak rilisnya pada 14 Maret 2018 sebagai single utama dan theme song drama TBS Unnatural. Di awal 2026 ini, lagu ini masih menduduki posisi tinggi di chart all-time Japan Hot 100, meraih pengakuan baru seperti Top Japanese Song in Asia di Music Awards Japan 2025, dan stream yang terus bertambah mendekati miliaran di platform digital. Dengan melodi ballad yang hybrid—sedih tapi ritmis ringan—serta lirik penuh metafor, “Lemon” menggambarkan kehilangan yang abadi: rasa sakit yang tak pernah benar-benar hilang, kenangan pahit-manis yang melekat, dan cahaya yang tetap dari orang yang telah pergi. Review ini mengupas makna mendalam di baliknya sebagai elegi tentang duka yang tak lekang waktu, di mana lemon menjadi simbol aroma kenangan yang menyakitkan namun tak tergantikan. MAKNA LAGU

Latar Belakang Rilis dan Inspirasi Pribadi Lagu Lemon: Review Makna Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi

Kenshi Yonezu menulis “Lemon” selama tur nasionalnya, tepat saat kakeknya meninggal dunia—pengalaman yang sangat memengaruhi lirik akhir. Ia awalnya ingin membuat ballad sederhana, tapi memilih pendekatan hybrid: kata-kata sedih di atas ritme yang seperti menari ringan, agar tak terlalu gelap. Lagu ini jadi theme song Unnatural, drama tentang forensik yang menangani kematian misterius, sehingga tema kehilangan dan penerimaan cocok sempurna.

Single ini langsung sukses besar: terjual lebih dari 500 ribu kopi fisik dan 3 juta digital di Jepang, menduduki nomor satu Billboard Japan Hot 100 selama berbulan-bulan, dan MV-nya—yang Yonezu ilustrasikan sendiri dengan gambar lemon segar kontras tema kematian—mendekati 800 juta views. Yonezu tampil di NHK Kohaku Uta Gassen, dan lagu ini jadi Song of the Year 2018 serta 2019 di Billboard Japan. Di 2026, ia tetap relevan dengan posisi tinggi di chart tahunan, bukti daya tahan emosional yang luar biasa.

Analisis Makna Lirik Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi: Review Makna Lagu Lemon: Kehilangan yang Abadi

Lirik “Lemon” berpusat pada duka mendalam atas kehilangan seseorang yang dicintai, kemungkinan besar melalui kematian. Pembuka “Ano hi no kanashimi sae / Ano hi no itami sae” (bahkan kesedihan hari itu, bahkan rasa sakit hari itu) langsung menarik pendengar ke masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama. Chorus ikonik “Yagate subete wa kieru noni / Naze ka ima demo kimi wa watashi no hikari” (semua akan lenyap suatu hari, tapi entah kenapa kamu masih cahayaku hingga kini) menekankan bahwa meski waktu berlalu, kehadiran orang itu tetap abadi sebagai penerang.

Lemon jadi metafor utama: “Nigai remon no nioi ga / Mada kokoro ni nokoru” (aroma lemon yang pahit masih melekat di hati). Aroma lemon yang tajam, segar, dan tak mudah hilang melambangkan kenangan bittersweet—manis karena indahnya masa lalu, pahit karena tak bisa kembali. Baris “Modoranai shiawase ga aru koto o / Saigo ni kimi ga oshiete kureta” (kamu yang terakhir mengajarkanku bahwa ada kebahagiaan yang tak akan kembali) menyiratkan pelajaran terakhir dari yang pergi: menghargai apa yang pernah ada, meski kini hilang selamanya.

Ada elemen penerimaan: “Futatsu ni wakareta mi no you ni / Ima demo kimi wa watashi no hikari” (seperti buah yang terbelah dua, kamu masih cahayaku hingga kini). Ini menunjukkan bahwa meski terpisah, bagian dari orang itu tetap hidup dalam diri penyanyi. Lagu ini bukan sekadar ratapan; ia tentang ketahanan—mengakui duka yang abadi tapi menemukan kekuatan dalam kenangan itu.

Dampak Jangka Panjang dan Relevansi di 2026

“Lemon” mengubah karir Kenshi Yonezu: dari musisi indie ke superstar J-pop, dengan pengaruh luas di Asia dan global. Lagu ini jadi soundtrack duka bagi banyak orang, sering diputar di pemakaman, acara peringatan, atau momen pribadi kehilangan. Dampaknya bertahan: mendominasi chart selama bertahun-tahun, memenangkan penghargaan berkelanjutan, dan di 2025-2026 masih masuk ranking tahunan serta mendapat award regional.

Di era 2026, di mana isu mental health dan grieving pasca-pandemi masih relevan, “Lemon” tetap menyentuh karena universalitasnya—siapa pun pernah kehilangan seseorang. Banyak pendengar bilang lagu ini seperti pelukan: sedih tapi menghibur, mengingatkan bahwa duka adalah bagian dari cinta yang tak pernah pudar. MV dan liriknya terus dianalisis, membuktikan kekuatan seni Yonezu dalam menyampaikan emosi kompleks dengan sederhana.

Kesimpulan

“Lemon” dari Kenshi Yonezu adalah elegi indah tentang kehilangan yang abadi: aroma kenangan yang pahit tapi tak tergantikan, cahaya yang tetap dari yang telah pergi, dan penerimaan bahwa beberapa kebahagiaan tak akan kembali. Dengan produksi hybrid yang menyatukan kesedihan dan ritme ringan, lirik metaforis yang mendalam, serta inspirasi pribadi yang jujur, lagu ini tak hanya mendominasi chart tapi juga menyembuhkan hati jutaan pendengar selama bertahun-tahun. Di tengah perubahan dunia, pesannya tetap kuat: duka tak pernah benar-benar hilang, tapi justru dari situlah kita menemukan cahaya abadi. Yonezu telah menciptakan masterpiece timeless yang mengingatkan kita untuk menghargai apa yang pernah ada, meski kini hanya tinggal aroma lemon yang melekat selamanya.

BACA SELENGKAPNYA DI….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *