Review Makna lagu Paint The Town Red: Warnai Kota Merah. Di tengah gejolak media sosial yang kembali memanas pada Februari 2026, lagu “Paint The Town Red” milik Doja Cat sekali lagi menjadi pusat perhatian. Dirilis pada Agustus 2023 sebagai single utama dari album Scarlet, lagu ini kini mendapat angin segar lewat pengumuman tur dunia Doja Cat bertajuk Tour Ma Vie yang dimulai akhir 2025 dan berlanjut hingga akhir 2026, termasuk penampilan di berbagai kota besar seperti São Paulo, London, dan New York. Pengumuman tur ini datang setelah rilis album baru Vie pada September 2025, di mana “Paint The Town Red” sering disebut sebagai katalisator kesuksesan Doja. Baru-baru ini, pada 7 Februari 2026, Doja memposting video TikTok (yang kemudian dihapus) di mana ia menasihati selebriti untuk tetap misterius dan “shut the f—k up”, sebuah pesan yang ironis mengingat lagu ini justru tentang membalas kritik secara terbuka. Review makna lagu ini menyoroti frasa “warnai kota merah” sebagai simbol pemberontakan dan kebebasan, tetap relevan di era di mana artis seperti Doja sering menghadapi kontroversi online. Dengan beat rap yang catchy dan sampel klasik, lagu ini bukan hanya hit komersial, tapi juga pernyataan identitas Doja Cat di industri musik yang penuh tekanan. BERITA BASKET
Latar Belakang dan Penciptaan Lagu: Review Makna lagu Paint The Town Red: Warnai Kota Merah
Doja Cat, atau Amala Ratna Zandile Dlamini, lahir di Los Angeles pada 1995 dengan akar Afrika Selatan dan Yahudi. Kariernya melejit lewat viral di SoundCloud, sebelum album debut Amala pada 2018. Scarlet, album keempatnya pada September 2023, dirancang sebagai respons terhadap kritik atas citranya yang provokatif, dengan “Paint The Town Red” sebagai single pembuka. Lagu ini diproduksi oleh Earl on the Beat, dengan kontribusi penulisan dari Doja sendiri, DJ Replay, dan Y2K. Sampel utamanya diambil dari “Walk on By” milik Dionne Warwick tahun 1964, yang diubah menjadi hook modern dengan elemen trap dan hip-hop.
Proses penciptaan berlangsung selama pandemi, di mana Doja bereksperimen di studio rumahan. Ia mengaku lagu ini lahir dari frustrasi atas rumor dan tuduhan setanisme yang menimpa dirinya, terutama setelah tato kontroversial. Video musiknya, disutradarai oleh Hannah Lux Davis dan Doja, menampilkan visual surealis seperti bertemu Death dan monster, yang memicu kontroversi tapi juga pujian atas kreativitas. Lagu ini debut di nomor 3 Billboard Hot 100 sebelum naik ke puncak, menjadi lagu rap solo wanita pertama yang nomor satu sejak “Doo Wop (That Thing)” milik Lauryn Hill pada 1998. Di 2026, dengan Tour Ma Vie yang mencakup 40 kota, Doja berencana membawakan versi live lagu ini dengan elemen visual baru, termasuk kolaborasi dengan penari dan efek laser, menandai evolusinya dari artis viral menjadi superstar tur. Tur ini juga mendukung album Vie, di mana tema pemberontakan dari “Paint The Town Red” terus bergaung.
Analisis Lirik dan Makna Mendalam: Review Makna lagu Paint The Town Red: Warnai Kota Merah
Makna inti “Paint The Town Red” terletak pada ekspresi kebebasan dan pembalasan. Frasa judul, “paint the town red”, secara tradisional berarti pesta liar, tapi di tangan Doja, ia berubah menjadi metafor agresif: “warnai kota merah” dengan darah haters atau energi merah marah. Lirik pembuka, “Bitch, I said what I said / I’d rather be famous instead,” langsung menyerang kritik, sementara chorus “Ugh, you can’t take that bitch nowhere / Ugh, I look better with no hair” menegaskan kepercayaan diri di tengah gosip. Doja menyisipkan referensi pribadi, seperti “My pockets on spinach, my pockets on lettuce,” simbol kekayaan, dan “She the devil / She a bad lil’ bitch, she a rebel,” yang membalik tuduhan setanisme menjadi kekuatan.
Secara mendalam, lagu ini alegori tentang navigasi ketenaran di era digital. Doja mengaku terinspirasi dari pengalaman dibully online, di mana “warnai kota merah” melambangkan mengambil kendali narasi sendiri, bukan diam saja. Elemen sampel Warwick menambahkan lapisan nostalgia, kontras dengan rap agresif Doja yang dipengaruhi Nicki Minaj dan Cardi B. Musikalitasnya—dengan beat 100 BPM, synth trap, dan vokal layered—membuatnya adiktif, tapi maknanya lebih dari sekadar party anthem; ia tentang resiliensi perempuan Hitam di industri yang sering memarginalkan mereka. Di 2026, makna ini semakin relevan dengan video TikTok Doja yang menasihati misteri, ironis karena lagu ini justru transparan tentang emosi. Banyak pendengar melihatnya sebagai himne anti-bullying, terutama di kalangan Gen Z yang menghadapi tekanan media sosial.
Dampak Budaya dan Penerimaan Saat Ini
Sejak rilis, “Paint The Town Red” telah mengubah dinamika budaya pop. Lagu ini mencapai 4x platinum RIAA, dengan miliaran stream di Spotify, dan memenangkan MTV Video Music Award untuk Best Visual Effects pada 2023. Video musiknya, dengan 300 juta views di YouTube, memicu debat tentang simbolisme okultisme, tapi juga mempopulerkan tren TikTok di mana pengguna “paint the town red” dengan makeup merah atau dance challenge. Di level global, lagu ini top chart di lebih dari 20 negara, termasuk nomor satu di Inggris dan Australia, memperkuat posisi Doja sebagai ikon fashion dan musik.
Dampaknya meluas ke isu sosial: Doja sering dikaitkan dengan body positivity dan anti-racism, meski kontroversi seperti tuduhan apropriasi budaya pernah muncul. Di 2026, penerimaan tetap kuat; tur Tour Ma Vie sold out di beberapa kota dalam hitungan jam, dengan penggemar berharap setlist termasuk “Paint The Town Red” sebagai encore. Kontroversi TikTok baru-baru ini justru meningkatkan buzz, dengan netizen membahas bagaimana pesan “misterius” kontras dengan lirik lagu yang blak-blakan. Kritikus memuji lagu ini sebagai evolusi rap perempuan, seperti ulasan yang menyebutnya “bold and unapologetic”. Di Indonesia, lagu ini populer di playlist urban, resonan dengan budaya muda yang menyukai tema pemberontakan. Secara keseluruhan, lagu ini membuktikan daya tahan Doja di tengah tren musik AI, di mana autentisitas tetap jadi kunci.
Kesimpulan
“Paint The Town Red” tetap menjadi manifesto kebebasan Doja Cat, dengan makna “warnai kota merah” yang menggambarkan pemberontakan melawan kritik. Dari rilis 2023 hingga tur Tour Ma Vie 2026 dan kontroversi TikTok terbaru, lagu ini terus evolusi, menginspirasi pendengar untuk hidup tanpa penyesalan. Di era digital yang penuh gosip, pesan Doja tentang resiliensi dan kepercayaan diri tetap powerful, membuktikan bahwa musik rap bisa jadi alat empowermen. Dengan dampak budayanya yang luas, lagu ini bukan sekadar hit, tapi legacy Doja yang abadi, mengajak kita semua untuk warnai dunia dengan warna kita sendiri.